Selasa, 29 November 2016

Tidak Ada Kebetulan

"Gak sengaja ngambil buku kuning ini, gak sengaja buka halaman ini, gak sengaja baca chapter yang ini"

Terbesit dalam pikiranku untuk membaca lembaran-lembaran kertas bertulis itu sebelum aku berlayar menuju samudera mimpi. "Mungkin beberapa kalimat diantara beberapa tumpukan buku ini bisa membuatku lebih baik sebelum tidur" Pikirku. Tanpa aku sengaja aku mengambil buku yang ada di tumpukan bawah. Dengan warna kuning cerah yang menantang mata seolah mengajak mata untuk berduel, mungkin itu bisa menjadikan alasan kenapa aku mengambil buku ini. Tapi sepertinya bukan itu yang membuatku mengambil buku ini.

Sebenarnya ada dua buku yang ingin aku baca sebelum aku tidur. Sebuah buku tentang pengetahuan dasar dan Titik Nol sebuah novel tentang makna sebuah perjalanan. Tapi tak kusangka buku ini yang aku ambil dan aku baca. Tidak berhenti sampai disitu. Deretan-deretan kebetulan itu masih berlanjut. Secara tidak sengaja aku membuka halaman yang mengejutkanku dan chapter yang tidak aku duga. Buku ini memang sudah lama aku beli tapi jarang aku buka dan baca. Aku lebih tertarik dengan buku-buku yang lain untuk aku baca dalam keseharianku. 

Setiap kata yang aku baca seolah mengerti sekali dengan keadaanku sekarang. Kata yang begitu menasehatiku.
Hei kamu ! Iya, kamu
Kalau kamu nganggur terus, kapan rezeki itu datang?
Kalau kamu tidur terus kapan kerjanya?
Kalau kamu sedih terus, kapan bangkitnya?
Kalau kamu jahil terus, kapan pintarnya?
Kalau kamu jomblo terus, kapan nikahnya?
Kalau kamu tekuni dosa terus, kapan tobatnya?
Kalau kamu galau terus, kapan semangatnya?
Sudah, ayo bangkit! Kejar impian, gapai pahala, dan belajarlah semuda mungkin.
Quotes for Muslim karya Kusnandar Putra
Memang benar tidak semua yang tertulis itu terjadi dalam diriku. Tapi setidaknya tulisan itu sudah mewakili apa yang aku rasakan saat ini. Kebetulan ? Ah rasanya tidak. Aku tidak percaya dengan kebetulan, aku percaya semua yang terjadi di dunia ini sudah menjadi kehendak-Nya. Seperti yang telah tertulis sebagai firman-Nya.
“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).
 Aku mengerti, tidak ada kejadian di dunia ini yang terjadi tanpa kehendak-Nya.

"Haaah..." aku menghela nafas panjang dan dalam. "Terima Kasih atas kesempatannya".

Aku : Apakah Kita Ada

Setiap manusia yang terlahir di muka bumi ini pasti memiliki jodohnya masing-masing. Surga yang diturunkan oleh Allah ke dunia sebagai teman dalam hidupmu. Yang menjadikan hidupmu menjadi tenang, nyaman dan hati menjadi tentram. Semua itu akan kamu dapatkan dalam ikatan suci pernikahan bukan pacaran. Apakah kamu menginginkannya? Aku pun begitu. Aku berharap bisa dipersatukan dengannya dalam ikatan suci pernikahan di dunia ini. Bagaimana tidak? Dengan menikah kita dapat menyempurnakan setengah agama kita.

Tapi, apakah kita akan bersatu di dunia ini? Semoga iya.

Ada fakta unik dalam diriku yang tidak banyak orang tau. Bahwa aku hampir saja tidak bisa melihat dunia ini. Tapi berkat doa dan usaha dari ibu, aku bisa melihat indahnya dunia ini. Saat aku masih dalam kandungan, bidan menyuruh ibuku untuk menggugurkan kandungannya. Karena alasan keselamatan. Kiret kata ibu kepadaku. Tapi setelah aku cari di mesin ketik google tidak aku temukan kata kiret disana. Yang ada adalah kuret. Entah, tapi yang pasti demi keselamatan ibu kandungannya harus digugurkan. Kekhawatiran bidan dengan kandungan ibu yang melemah tak sebesar kekhawatiran ibuku terhadapku. Ibuku lebih mengkhawatirkanku. Ibuku lebih menyayangiku. Akhirnya aku pun hadir di dunia ini.

Kemudian aku bertanya?

Apakah belahan jiwaku sudah terlahirkan di dunia ini? Atau bernasib tak seberuntung aku? Apakah….? Ah.... aku memohon ampunan-Mu. Aku telah berpikiran negatif. Bukankah Allah tau setiap apa yang akan dilakukan hamba-Nya bukan? Bahkan sebelum aku menulis ini pun Allah tahu bahwa aku akan menulisnya. Aku terlalu sibuk memikirkan yang jauh padahal kualitas diri ini perlu banyak diperbaiki. Mungkin dalam perjalanan kita akan bertemu. Dalam setiap langkah yang kita tuju. Aku ingin menjemputmu wahai belahan jiwaku.

Apakah kita ada?

Mudah-mudahan iya.